Logo SantriDigital

Reuni dan Halal Bi Halal bani kartomo

Ceramah
H
hasansultoni
28 April 2026 6 menit baca 0 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِكَ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِكَ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (المائدة: ٢) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي Yang terhormat para alim ulama, para kiai, asatidz, asatidzah, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari sekalian, seluruh keluarga besar bani Kartomo yang saya cintai karena Allah. Sungguh, hati ini begitu haru dan bersyukur bisa berdiri di hadapan panjenengan semua pada momen yang sangat istimewa ini. Reuni dan Halal Bi Halal bani Kartomo. Sebuah pertemuan yang bukan sekadar ajang silaturahmi, namun lebih dari itu, sebuah pengingat tentang hakikat kehidupan dan betapa berharganya hubungan sesama. Saudaraku sekalian, Dunia ini, sejatinya, adalah serangkaian pertemuan dan perpisahan. Hari ini kita berkumpul, wajah-wajah yang mungkin telah lama tak bersua, tawa yang mungkin telah lama tak terdengar. Namun di balik kebahagiaan ini, ada sebuah getir yang kadang tak kita sadari. Lihatlah sekeliling kita. Adakah di antara kerabat kita yang hari ini belum bisa hadir? Adakah orang-orang terkasih yang setahun lalu masih duduk bersama kita, berbagi cerita, kini telah berpulang menghadap Sang Pencipta? Teringat firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ Artinya: "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan bathil). Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan Ramadhan, hendaklah berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." Ramadhan telah berlalu, meninggalkan jejak-jejak amalan, namun juga meninggalkan rasa rindu. Momen halal bi halal ini sejatinya adalah momen 'mengisi' kembali kekosongan yang mungkin tercipta. Bukan sekadar basa-basi, bukan juga sekadar tradisi. Ini adalah panggilan untuk menyambung kembali tali kasih yang mungkin telah renggang. Pernahkah terbetik dalam hati kita, betapa seringnya hubungan baik sesama manusia tergerus oleh kesibukan dunia? Dulu, saat kita masih kecil, rumah kita terbuka, pintu hati kita lebar. Tapi kini, dinding-dinding kesibukan, kesalahpahaman, dan keakuan seolah berdiri kokoh memisahkan kita. Kita saling mendiamkan, saling menyimpan dendam, bahkan saling membenci tanpa alasan yang jelas, kecuali bisikan setan yang terkutuk. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Muslim: لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ ذَاكَ، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ Artinya: "Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memboikot (tidak berbicara dengan) saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya bertemu, lalu yang seorang berpaling dan yang seorang lagi juga berpaling. Dan sebaik-baik mereka berdua adalah yang memulai mengucapkan salam (terlebih dahulu)." Betapa pedihnya hati jika kita termasuk orang yang memboikot saudara kita sendiri! Tiga malam saja dilarang, apalagi bertahun-tahun. Ini bukan tentang siapa yang salah, siapa yang benar. Ini tentang bagaimana kita membersihkan hati, agar kita bisa diterima di hadapan Allah dan Rasul-Nya. Halal bi halal ini adalah kesempatan emas untuk membersihkan hati. Meminta maaf, memaafkan. Mengulurkan tangan tanpa pamrih. Mengucapkan kata-kata yang menyejukkan, bukan yang melukai. Ingatlah, setiap tangis yang kita kesalkan, setiap rasa sakit yang kita torehkan pada hati saudara kita, akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Siapa yang ingin bertemu Allah dalam keadaan membawa beban dosa karena menyakiti sesama? Saidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, "Hati manusia adalah tempat rahasia, maka janganlah kamu mencari-cari rahasia orang lain. Dan Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang berhubungan dengan-Nya, namun Allah tidak akan mengampuni dosa-dosamu yang berhubungan dengan manusia sampai kamu memohon maaf kepada mereka." Saudaraku, mari kita renungkan. Berapa banyak tetangga kita yang tak pernah kita sapa? Berapa banyak kerabat dekat yang telah lama tak kita kunjungi? Betapa sunyinya hati ini jika kita hanya hidup untuk diri sendiri, melupakan hak-hak orang di sekitar kita. Padahal, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 10: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ Artinya: "Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat." Kehidupan di dunia ini sangat singkat, Saudara. Bayangkan sebatang lilin yang menyala dalam kegelapan, perlahan namun pasti akan habis dilalap api. Begitu pula usia kita, terus berjalan tanpa terasa. Suatu saat nanti, kita semua akan berkumpul di hadapan Allah SWT. Saat itu, harta, tahta, kedudukan, semua akan sirna. Yang tersisa hanyalah amal perbuatan kita. Dan salah satu amal yang paling dicintai Allah adalah silaturahmi, menyambung tali persaudaraan. Rasulullah ﷺ bersabda dalam Hadits Qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Allah Ta'ala berfirman: "Aku adalah Ar-Rahman, dan Aku menciptakan rahim. Aku menamai rahim itu dari nama-Ku. Barangsiapa menyambungnya, maka Aku akan menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskannya, maka Aku akan memutuskannya." (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad) Sungguh, ancamannya begitu dahsyat bagi siapa saja yang memutus tali silaturahmi. Bayangkan, Allah Sang Maha Pengasih akan membalasnya dengan memutuskan rahmat dari-Nya. Siapa yang ingin terputus dari rahmat Allah? Mari kita jadikan momen reuni dan halal bi halal ini sebagai titik tolak kebaikan. Tinggalkan segala prasangka buruk, lupakan segala sakit hati. Datangilah saudara-saudara kita, rangkul mereka, bisikkan kata maaf dari lubuk hati yang terdalam. Ulurkan tangan untuk berjabat, tersenyumlah dengan ketulusan. Karena senyumanmu bisa menjadi pembuka pintu surga bagi saudaramu, dan maafmu bisa menjadi pembersih dosa bagimu. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. Menyesal ketika orang tua kita telah tiada, menyesal ketika teman sejati kita telah berbeda alam, menyesal ketika kesempatan untuk berbuat baik telah tertutup rapat. Kehidupan ini adalah medan ujian. Ujian iman, ujian sabar, ujian cinta, dan ujian ukhuwah (persaudaraan). Biarlah momen ini menjadi saksi bisu, bahwa bani Kartomo adalah keluarga besar yang saling mencintai, saling menyayangi, dan saling menjaga. Bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Semoga Allah mengumpulkan kita kembali di surga-Nya, bersama dengan orang-orang yang kita cintai karena Allah. Mari kita akhiri pertemuan ini dengan hati yang lapang dan jiwa yang bersih. Mohon maaf yang tulus kepada seluruh keluarga besar bani Kartomo, jika dalam tutur kata maupun perbuatan saya ada yang kurang berkenan. Saya doakan agar keberkahan Allah senantiasa melimpahi kita semua. Ya Allah, ya Tuhan kami. Wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa seluruh keluarga besar bani Kartomo, baik yang masih hidup maupun yang telah Engkau panggil menghadap-Mu. Ya Allah, perbaikilah hati kami, bersihkanlah dada kami dari segala kebencian dan kedengkian. Jadikanlah kami sebagai insan yang saling mencintai karena-Mu, saling menyayangi karena-Mu, dan saling berbuat baik karena-Mu. Ya Allah, kabulkanlah permohonan kami. Jadikanlah pertemuan ini sebagai awal dari kebaikan yang berkelanjutan, sebagai bekal kami menuju ridha-Mu. Ya Allah, terimalah amal ibadah kami, puasa kami, shalat kami, dan semua kebaikan yang telah kami lakukan. Karuniakanlah rahmat-Mu atas kami semua. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →